PENGORBANAN SEORANG IBU
SURAH AL-ISRA’ AYAT 23-24
Arab-Latin: wa qaḍā rabbuka allā ta'budū illā iyyāhu wa bil-wālidaini iḥsānā, immā yabluganna 'indakal-kibara aḥaduhumā au kilāhumā fa lā taqul lahumā uffiw wa lā tan-har-humā wa qul lahumā qaulang karīmā.(Al-Isra’ 23). wakhfiḍ lahumā janāḥaż-żulli minar-raḥmati wa qur rabbir-ḥam-humā kamā rabbayānī ṣagīrā.(Al-Isra’ 24).
Terjemahan Ayat: “Dan tuhanmulah telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu/bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berunur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kai jangalah kamu mengatakan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepda mereka perkataan yang mulia.” (23). “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih saying dan ucapkanlah: “Wahai tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdu telah mendidik aku waktu kecil.”(24).
Besarnya kasih sayang ibu terhadap anaknya, tak pernah terganti dan tak mampu kita membalasnya. Walau segala upaya kita lakukan dan kita perbuat untuknya, tidak ak
7
an pernah menandingi besarnya pengorbanan ibu.
Suatu hari, Ibnu Umar melihat seeorang yang sedang menggendong ibunya sambal thawaf mengelilini ka’bah. Orang tersebut lantas berkata kepadanya, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?”.
Ibnu Umar menjawab, “belum, meskipun sekedar satu nafas ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.” Subhanallah, begitu agungnya perjuangan seorang ibu. Pantas ketika sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, kepada siapakah kita hars berbakti pertama kali? Nabi Muhammad SAW menjawab, ibumu! Sampai tiga kali, baru yag keempat bliau menjawab ayahmu.
Sementara itu, pepatah kuno menggambarkan kasih saying ibu terhadap anaknya sepanjang masa, tak ada batas waktunya, hingga ajal memisahkan keduanya. Segala upaya dilakukannya, hanya untuk membahagiakan anaknya meski ia harus bersusah payah , luka dan berdarah-darah. Bahagia, tawa, dan senyum,anaknya adalah bahagianya. “Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama Sembilan bulan, seolah-olah Sembilan tahun. Dia bersusah payah melahirkanmu yang hamper saja menghilangkan nyawanya. Dn dia telah menyusuimu, dia hilangkan rasa mengantuknya karena menjagamu. Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikan semua kebaikan dan apabila kamu sakit dan mengeluh, tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya, dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu, dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.
Pandangan Islam Tentang Ibu
Pada zaman jahiliyyah wanita tidak ada artinya bagi kau lelaki, kecuali hanyalah pemuas hasrat dan birahi kaum lelaki. Sementara wanita tidak berdaya, kecuali untuk tunduk terhadapnya. Namun, hal itu berubah derastis ketika islam dating dengan Al-Qur’an sebagai wahyu, dan Nabi Muhammad Saw sebagai teladan sejati. Al-Qur’an menempatkan wanita pada kedudukan yang sangat tinggi dan mulia. Al- Qur’an bertutur banyak tentang posisi wanita sebagai seorang ibu. Allah SWT menggambarkan tentang tingginya posisi itu, seolah-olah di sejajarkan dengan posisinya.
Surga Di Telapak Kaki Ibu
Rasulullah Saw bersabda yang artinya, “Hendaklah kamu berbuat baik kepda ibumu, kemudian ibumu, sekali lagi ibumu, kemudian bapakmu, kemudian orang yang terdekat, dan yang terdekat.”(Hadist Riwayat Bukhari).
Arab Latin: Aljannatu tahta aqdamil ummahaati, man syi’na udkholna wa man syi’na ukhrojna. (Silsilah al-ahadist adh-dhaifah, no. 593).
Terjemahan Hadist: “Surga itu dibawah telapak kaki ibu.”
Begitulah sebuah ungkapan yang sering kita dengar untuk menggambarkan kedudukan ibu terlepas dari kontroversi kedudukan hadist tersebut dikalangan ulama.
Mampukah Kita Membalas Kebaikan Ibu?
Kita tidak akan mampu untuk membalas jasanya meski harta yang melimpah dan kenyamanan yang kita berikan kepadanya, sungguh itu belum seberapa terhadap apa yang dia lakukan untuk kita. Namun bukan berarti, kita tidak berbuat apapun untuk membalas kebaikannya, walau hanya sekedar “nafas” ketika melahirkan kita. Beberapa diantara yang bisa kita lakukan untuk membalas kebaikan ibu adalah:
Pertama: bergaul dan berbuat baik. Memberikan kebahagiaan meski membuatnya tersenyum adalah suatu perkara yang terkadang kecil, namun jarang sekali orang melakukannya. Padahal, kebaikan-kebaikan sekecil apapun yang kita lakukan adalah kebahagiaan tersendiri untuk mereka.
Kedua: bertutur dengan perkataan baik dan lemah lembut. Hati orang tua biasanya lebih sensitif terhadap sesuatu hal. Jadi, sebagai anak hendaknya menjaga hati orang tua dan menjaga lisan dan perbuatan kita agar tidak menyakitinya atau membuatnya sekedar tersinggung. “Ah” saja tidak boleh apalagi “mengomel” dan menyakitinya.
Ketiga: tawadhu’(rendah diri) artinya kita tidak sombong dengan apa yang kita miliki. Justru malah seharusnya kita sadar dengan apa yang kita miliki tidak terlepas dari usaha dan jerih payah orang tua dalam mendidik dan mengantarkan kita kepada jalan kesuksesan itu.
Dan masih banyak yang lainnya, namun tak kalah pentingnya adalah mendo’akannya. Apakah mereka masih hidup atau sudah tiada. Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa do’a yang ditujukan kepada orang tua, diantaranya:
Arab Latin: “Rabbi agfir liy waliwalidayya waliman dakhala baytiya mu’minann walilmu’miniyna waalmu’minati wa laa tazidi dhalimiyna illaa tabaaraa
Terjemahannya: “Ya Tuahanku! Ampunilah aku, ibu/bapakku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman[14] dan semua oran yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran.”
Arab Latin: “Robbanaa agfirliy waliwalidaiyya walilmu’miniyna yauma yaqumul hisaab.”
Terjemahannya: “ Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu/bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab(hari kiamat).” [Ibrahim: 41].
Allah berpesan agar setiap orang melakukan bakti kepada orang tua dengan berbagai bentuk perbuatan baik. Namun kepada selain orang tua, Allah hanya memesankan ‘sebagian’ bentuk kebaikan itu saja “katakanlah yang baik, kepada manusia.” Jika kita harus menghitung kasih sayang seorang ibu, maka tidak akan ada seorang pun yang mampu untuk menghitungnya. Lantas kemudian, dengan penuh pengorbanan itu masih ada hatikah kita untuk menyakitinya/ masih adakah hati untuk membentak dan menganggapnya remeh hidup dan peran dalam kehidupan kita.
Pantas saja Rasulullah SAW dalam sabdanya mengatakan bahwa “ sungguh merugi orang yang jika seumur hidupnya diberikan waktu bersama orang tuanya, namun tidak membuatnya masuk surga sementara banyak yang bisa dilakukannya.
“Sungguh kasihan, sungguh kasihan, sungguh kasihan.” Salah seorang sahabat bertanya, “Siapa yang kasihan, wahai Rasulullah/ “Beliau menjawab, “Orang yang sempat berjumpa dengan orang tuanya, kedua-duanya, atau salah seorang diantara keduanya, saat umur mereka sudah menua, namun tidak bisa membuatnya masuk surge.” (Riwayat Muslim).
Jadi perlu diingat bahwa sebuah pengorbanan seorang ibu itu tidak hanya sebatas dari pengorbanan materi saja walaupun materi itu juga merupakan pengorbanan utama, tapi pengorbanan seorang ibu juga meliputi pengorbanan waktu, perasaan dan juga tenaga yang harus ibu lakukan untuk kebaikan sang anak. “Dan pantaslah disebut jasa seorang ibu itu tiga tingkat dibanding ayah.”
"Dia Romaito Siregar"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar